BANTEN, (gitamedia.com) – Dalam Upaya penurunan dan pencegahan stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten selain fokus kepada Balita (Bayi Lima Tahun) juga menyasar kepada Remaja Putri melaui Program pemberian tablet tambah darah (TTD) pada remaja putri usia 12-18 tahun.
Hal itu diungkapakan Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dalam sambutannya dihadapan kader-kader posyandu dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Singandaru Kota Serang pada kegiatan Sosialiasi Peningkatan Intervensi Pelayanan Gizi Spesifik dan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang bertempat di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Selasa, 15 Juli 2025.
“Sosialisasi ini sesuai Astacita Presiden Prabowo dan amanah Gubernur Banten, Andra Soni yang menekankan pentingnya pencegahan stunting untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di Banten,” ungkap Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS Didampingi Sekretaris Kelurahan Kota Baru Alik Kurniadi, S.Pd, drg. Eka Agustina, MM.Kes dari Dinas Kesehatan Kota Serang dan Kasi Gizi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Nurya Gustina.
Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS menjelaskan, Intervensi gizi yang dilakukan Dinkes Banten tidak hanya berfokus terhadap Balita tapi seluruh masyarakar khusunya remaja putri melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia.
“Program ini sangat penting, remaja putri membutuhkan zat besi lebih banyak dibandingkan usia lainnya, terutama saat mengalami menstruasi. Anemia pada remaja putri dapat berdampak pada kehamilan dan persalinan, serta meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan stunting,” paparnya.
Lebih lanjut, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS menjelaskan bahwa Intervensi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan kesehatan, serta meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan di posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya.
“Peningkatan intervensi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat, terutama dalam hal pemantauan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak sejak dini dan usia remaja,” ujar Kadis Dinkes Provinsi Banten.

Dijelaskannya, secara umum dalam Upaya menurunkan angka stunting, Dinkes Banten menerapkan 9 Intervensi Gizi Spesifik yakni:
(1). Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil,
(2) Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil,
(3) Inisiasi Menyusu Dini (IMD),
(4) Pemberian ASI eksklusif,
(5) Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat,
(6) Imunisasi lengkap,
(7) Pemantauan pertumbuhan anak,
(8) Suplementasi Vitamin A dan Zinc,
(9) Pengobatan infeksi pada anak.
“Ini merupakan program perioritas yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang merupakan Program unggalan Banten sehat, turunannya program Faskin,” paparnya.
Dijelaskannya, Program Faskin, atau “Fasilitas Kesehatan Inovatif”, adalah program kesehatan yang diusung oleh calon gubernur Banten, Andra Soni, untuk meningkatkan kualitas dan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Banten. Program ini bertujuan untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai inovasi, termasuk menghadirkan pelayanan kesehatan kedesa desa. (Adv)











