Goresan pena biru di kertas sederhana itu kini menjadi saksi bisu bahwa doa dan kerja keras seorang ibu dengan 7 anak bisa menembus jarak ribuan kilometer, melintasi benua, dan bersinar di tanah Istanbul yang indah.
Dari coretan tangan ke identitas sebuah impian. Pasti diantara kalian baca banyak yang bertanya apa arti “tm” dalam lingkaran emas itu. Ini bukan sekadar huruf, melainkan inisial dari Turan dan Mehmet, dua sahabat yang menaruh kepercayaan besar di pundakku.
Aku memang bukan desainer profesional dengan gelar mentereng. Namun, sejak remaja bahkan saat di bangku sekolah, jemariku selalu gatal ingin mencipta, menjadikan desain sebagai bahasa caraku melihat sebuah karya.
Ketika sang owner Turan dan Mehmet meminta bantuan untuk membangun identitas toko sepatu mereka, aku tahu ini bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah tentang menghargai kepercayaan.
Logo yang awalnya hanya goresan pena biru di atas kertas, kini telah bertransformasi—lebih kokoh, berkilau emas, dan siap melangkah bersama brand mereka: KISHI.
Seringkali, karya terbaik tidak lahir dari studio besar, tapi dari ketulusan dan keberanian untuk mulai mencoba. Dari sketsa sederhana ini, sebuah langkah besarku di Istanbul dimulai dari sini.
Melihat Mimpi Tegak Berdiri di Sudut Istanbul. Dari 13 Desember ke 3 Februari mimpi itupun menjadi kenyataan. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan saat melihat sketsa yg diinginkan sang owner kini terpampang nyata di depan mata.
Bukan di sembarang tempat, tapi di jantung Beyazıt, Istanbul—sebuah kawasan legendaris yang menjadi saksi bisu sejarah perdagangan dunia.
Melihat logo “tm”KISHI itu bersinar di atas etalase toko, rasanya seperti melihat anak sendiri tumbuh besar.
Bangga? Tentu. Tapi lebih dari itu, ada rasa syukur yang membuncah. Ternyata, karya seorang designer amatiran dari indonesia mampu “menyeberang benua” dan bersanding dengan deretan brand legendaris lainnya di Turki.
Ini bukan sekadar soal estetika atau tipografi. Ini adalah bukti bahwa: Jarak bukan penghalang: Dari Indonesia ke Istanbul, kepercayaan tetap bisa terjaga. Kualitas tidak punya batasan negara: Hasil karya kita punya tempat di mana pun, selama dikerjakan dengan hati.
Kepercayaan adalah amanah: Terima kasih kepada 2 Owner Turan Abi dan Mehmet Abi yang telah memberikan ruang bagi imajinasiku untuk hidup di tanah para sultan ini. Tidak lupa juga terimakasih yg sangat besar untuk Onur Baran Anak lelaki Turan Abi, yang sangat berjasa bagiku mengenalkan aku pada mereka.
Hari ini, langkahku terasa lebih ringan. Pencapaian ini menjadi pengingat bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh jika kita berani memulai.
Dari coretan tangan, ke identitas sebuah impian, dan kini menjadi bagian dari sejarah di sudut kota Istanbul yang indah. Perjalanan belum usai, justru baru saja dimulai.
Penulis
Rossana Podhesta
( Activistpreuner, Fungsionaris DPP KNPI)











