Oleh: Engkus Kuswarno (Komunikolog UNPAD)
Camilan Paceklik Menuju Ikon Ketahanan Pangan Gunung Kidul
Ketika orang menyebut Yogyakarta, ingatan publik segera melayang pada Malioboro, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, deretan 23 pantai eksotis di Gunung Kidul, gudeg, bakpia, atau sate klatak. Namun, ada satu kekayaan kuliner yang masih berada di pinggir panggung pariwisata nasional, padahal menyimpan cerita sosial, ekologis, dan budaya yang sangat kuat. Namanya sederhana, belalang goreng atau walang goreng.
Bagi sebagian orang, mendengar kata “belalang goreng” mungkin memunculkan rasa heran, bahkan jijik. Akan tetapi, bagi masyarakat Gunung Kidul, walang bukan hanya makanan. Walang merupakan cerita tentang kemampuan manusia bertahan hidup, tentang kreativitas di tengah keterbatasan, dan tentang bagaimana alam mengajarkan manusia untuk tidak menyerah.
Beberapa hari lalu, seorang sopir yang menemani penulis berkeliling wilayah Gunung Kidul bercerita bahwa ia pernah mengantar wisatawan asal Belanda. Di sela kunjungan ke pantai dan kawasan karst (batu kapur/gamping) itu, wisatawan tersebut justru tertarik membeli beberapa variasi paket walang goreng yang telah dikemas rapi. “Buat oleh-oleh ke Belanda,” katanya sambil tersenyum.
Cerita sederhana itu menyimpan pesan besar. Sesuatu yang oleh sebagian masyarakat lokal dahulu dianggap makanan biasa, bahkan identik dengan masa paceklik, ternyata dipandang eksotis dan bernilai tinggi oleh orang luar.
Makanan dari Tanah yang Keras
Untuk memahami makna walang, kita harus memahami Gunung Kidul. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai daerah dengan bentang alam karst, sumber air yang terbatas, dan lahan pertanian tadah hujan. Pada masa lalu, kemarau panjang sering kali menghadirkan kesulitan pangan bagi masyarakat. Dalam kondisi demikian, warga mengembangkan berbagai strategi adaptasi, salah satunya memanfaatkan sumber protein yang tersedia di alam, termasuk belalang.
Karena populasinya melimpah di area persawahan dan ladang, walang kemudian menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat. Walang bukan simbol kemiskinan, melainkan simbol kecerdikan ekologis.
Di tengah keterbatasan, masyarakat menemukan cara untuk tetap bertahan dan bahkan menikmati hidup. Mungkin karena itulah lagu jenaka Jawa “Walang Kekek” yang dinyanyikan Waldjinah pada tahun 1960an terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Kata “kekek” dapat dimaknai kontemporer sebagai suara tawa.
Seolah-olah walang sedang tertawa, atau justru manusia yang dapat tertawa karena berhasil melewati masa sulit berkat sumber daya yang tersedia di sekitarnya. Dalam perspektif ini, walang adalah metafora tentang resiliensi.
Superfood yang Datang dari Sawah
Menariknya, apa yang dahulu dianggap makanan kampung kini justru sejalan dengan tren pangan masa depan dunia.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sejak lama mendorong pemanfaatan serangga sebagai sumber pangan alternatif karena kandungan gizinya yang tinggi serta dampaknya yang relatif kecil terhadap lingkungan. Serangga, termasuk belalang, memiliki kandungan protein yang tinggi, asam amino esensial, vitamin, mineral, dan membutuhkan air serta lahan yang jauh lebih sedikit dibandingkan peternakan konvensional.
Dalam berbagai penelitian, kandungan protein belalang dapat mencapai lebih dari 50 persen berat keringnya. Artinya, secara nutrisi, walang bukan makanan “aneh”, tetapi justru termasuk kategori future food atau pangan masa depan.
Di saat dunia mulai khawatir terhadap krisis pangan, perubahan iklim, dan keterbatasan sumber protein hewani, masyarakat Gunung Kidul sebenarnya telah mengenal alternatif tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Ironisnya, sesuatu yang dianggap modern oleh dunia internasional justru telah lama dipraktikkan sebagai kearifan lokal di pedesaan Yogyakarta.
Dari Stigma Menjadi Kebanggaan
Tantangan terbesar walang bukan pada rasanya. Siapa pun yang pernah mencicipinya akan mengakui bahwa teksturnya renyah, gurih, dan mudah membuat orang ketagihan.
Persoalannya terletak pada persepsi. Sebagian masyarakat masih menganggap konsumsi serangga sebagai sesuatu yang menjijikkan, aneh, atau tidak lazim. Ada pula diskusi mengenai aspek halalan thayyiban, terutama menyangkut proses pengolahan, kebersihan, serta penerimaan budaya.
Karena itu, tantangan utama pengembangan walang bukan semata produksi, melainkan komunikasi.
Produk ini memerlukan proses reframing atau pembingkaian ulang. Jangan menjualnya hanya sebagai “belalang goreng”, tetapi sebagai cerita tentang ketahanan pangan, pangan berkelanjutan, dan identitas budaya Gunung Kidul.
Orang modern tidak hanya membeli produk. Mereka membeli cerita, pengalaman, dan makna. Kopi Gayo, cokelat Belgia, atau keju Swiss menjadi terkenal bukan hanya karena rasanya, tetapi karena narasi yang menyertainya. Hal yang sama dapat dilakukan terhadap walang.
Crispy Grasshopper dari Gunung Kidul
Bayangkan jika suatu hari wisatawan datang ke Yogyakarta dan membawa pulang tiga oleh-oleh utama: gudeg, bakpia, dan crispy grasshopper from Gunung Kidul alias belalang krispi dari Gunung Kidul.
Nama itu mungkin terdengar unik, bahkan sedikit eksentrik. Namun justru di situlah kekuatannya.
Dunia pariwisata saat ini bergerak ke arah pencarian pengalaman yang autentik dan berbeda. Orang rela datang jauh-jauh untuk mencoba makanan khas yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Thailand memiliki berbagai kuliner serangga yang dipasarkan secara terbuka. Meksiko terkenal dengan chapulines, yaitu belalang panggang berbumbu yang menjadi bagian dari identitas kuliner Oaxaca. Jepang mengenal inago no tsukudani, olahan belalang dengan kecap manis. Di Afrika, berbagai jenis serangga juga menjadi sumber protein penting masyarakat.
Mengapa Gunung Kidul tidak dapat menempatkan walang pada posisi yang sama? Bahkan, dibandingkan berbagai negara tersebut, Gunung Kidul memiliki nilai tambah yang unik, yakni cerita tentang perjuangan masyarakat karst menghadapi paceklik.
Menjual Cerita, Bukan Hanya Camilan
Dalam perspektif manajemen komunikasi, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan.
Pertama, membangun place branding. Walang harus dikaitkan secara kuat dengan identitas geografis Gunung Kidul. Sebagaimana gudeg identik dengan Yogyakarta atau rendang identik dengan Minangkabau, maka walang perlu diposisikan sebagai ikon kuliner khas Gunung Kidul.
Kedua, membangun narasi ketahanan pangan. Walang bukan makanan darurat, melainkan simbol kemampuan masyarakat lokal mengelola sumber daya alam secara kreatif.
Ketiga, melakukan reposisi sebagai pangan sehat dan ramah lingkungan. Istilah seperti protein alami, superfood lokal, atau future protein dapat membantu mengubah persepsi generasi muda.
Keempat, memperkuat komunikasi digital melalui media sosial. Video pendek yang menampilkan proses penangkapan, pengolahan, hingga ekspresi wisatawan yang pertama kali mencicipi walang akan memiliki daya tarik tinggi.
Kelima, mengembangkan variasi produk. Walang tidak harus selalu hadir dalam bentuk tradisional. Camilan itu dapat dikembangkan menjadi walang crispy, walang asam manis, rasa balado, keju, barbeque, bahkan menjadi bahan campuran sambal atau makanan ringan premium.
Keenam, membangun diplomasi kuliner. Jika wisatawan Belanda tertarik memborong walang sebagai oleh-oleh, maka peluang pasar internasional sebenarnya sudah terbuka.
Ketika Walang Menjadi Simbol Harapan
Di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian pangan global, kisah walang mengajarkan satu hal penting yaitu solusi masa depan seringkali tersembunyi dalam kebijaksanaan masa lalu.
Apa yang dahulu dianggap makanan orang desa ternyata menyimpan relevansi global. Mungkin kita perlu berhenti memandang walang sebagai sesuatu yang “aneh”. Sebaliknya, kita perlu melihatnya sebagai warisan pengetahuan lokal yang berhasil menjawab persoalan pangan dengan cara sederhana tetapi efektif.
Walang adalah cerita tentang masyarakat yang hidup di tanah yang keras, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk tersenyum.
Barangkali itulah makna terdalam dari lagu jenaka “Walang Kekek”. Bukan hanya lagu, melainkan metafora bahwa manusia dapat tetap tertawa meskipun hidup dalam keterbatasan.
Siapa tahu, suatu hari nanti, ketika dunia mencari sumber pangan baru yang lebih berkelanjutan, mereka justru akan datang ke Gunung Kidul untuk belajar.
Belajar bahwa di balik setoples walang goreng yang renyah, tersimpan cerita tentang ketangguhan, identitas, dan harapan. Karena sesungguhnya, yang dijual bukan hanya camilan, yang dijual adalah kisah sebuah masyarakat yang berhasil mengubah paceklik menjadi kebanggaan.











