(Tangerang Selatan, Gitamedia) – Partisipasi pemilih bukan semata diukur dari tingginya angka kehadiran di tempat pemungutan suara, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memahami arti penting suaranya dalam menentukan arah pemerintahan. Berangkat dari pemahaman tersebut, Demokrasi Check melalui Direktur Eksekutifnya, Yully Khusniah, berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih pada Wilayah dengan Tingkat Partisipasi Rendah Tahun 2026 yang diselenggarakan KPU Kota Tangerang Selatan.
Kegiatan berlangsung pada Senin (27/7/2026) di Kampung Buaran RT 02 RW 04, Kelurahan Pondok Benda, tepatnya di teras Mushola Al Ikhlas. Peserta didominasi warga sekitar, termasuk sejumlah lansia yang selama ini relatif jauh dari akses informasi mengenai demokrasi, kepemiluan, dan hak-hak politik warga negara.
Dalam pemaparannya, Yully menekankan bahwa rendahnya partisipasi politik sering kali bukan disebabkan oleh apatisme semata, melainkan juga karena minimnya literasi politik yang diterima masyarakat. Banyak warga yang belum memahami bahwa memilih bukan sekadar memenuhi kewajiban lima tahunan, tetapi merupakan instrumen untuk menentukan kualitas pelayanan publik dan masa depan daerah.
“Demokrasi tidak boleh hanya hadir di ruang seminar atau forum akademik. Demokrasi harus hadir di kampung-kampung, di ruang-ruang warga, bahkan di teras musala seperti hari ini. Di sinilah pendidikan politik menemukan makna yang sesungguhnya,” ujar Yully.
Menurutnya, pendidikan pemilih perlu disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat sebagian peserta merupakan pemilih dengan tingkat literasi politik yang masih terbatas. Karena itu, diskusi lebih banyak diarahkan pada persoalan yang mereka jumpai secara langsung, seperti hubungan antara pilihan politik dengan pembangunan lingkungan, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat.
Yully juga mengajak warga untuk tidak mudah terpengaruh oleh politik uang maupun informasi yang belum terverifikasi. Ia menegaskan bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara pemilu, tetapi juga oleh kualitas keputusan yang diambil setiap warga ketika menggunakan hak pilihnya.
Bagi Demokrasi Check, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa tantangan demokrasi Indonesia bukan hanya persoalan regulasi atau penyelenggaraan pemilu, tetapi juga bagaimana memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk memahami hak politiknya. Pendidikan pemilih di wilayah dengan partisipasi rendah merupakan investasi jangka panjang dalam membangun budaya demokrasi yang lebih inklusif.
Melalui dialog yang berlangsung hangat dan interaktif, warga tidak hanya memperoleh informasi mengenai pentingnya berpartisipasi dalam pemilu, tetapi juga didorong untuk melihat bahwa suara mereka memiliki nilai strategis dalam menentukan arah pembangunan. Dari ruang sederhana di tengah permukiman warga, semangat demokrasi dibangun melalui percakapan, pemahaman, dan kesadaran bahwa setiap suara memiliki arti. (Redaksi Gitamedia)











