JAKARTA ,14 Maret 2026– Di tengah tantangan demokrasi yang kian dinamis, seruan untuk menjaga konsistensi perjuangan keadilan kembali bergema. Pejuang keadilan dan kebenaran ditegaskan bukanlah sebuah profesi komersial, melainkan panggilan hati nurani yang bergerak tanpa pamrih demi tegaknya cita-cita Proklamasi dan Pancasila.
Dalam pernyataan yang sarat akan semangat solidaritas,Vayiireh Sitohang menekankan bahwa keberadaan aktivis independen adalah kompas moral bagi pemerintah. Aktivis yang bergerak tanpa bayaran dipandang sebagai elemen kunci yang memaksa rezim untuk tetap mawas diri dan istiqomah dalam menjalankan wewenangnya sesuai koridor hukum.
“Jika masih ada aktivis yang dibungkam, itu adalah sinyal bahwa rezim gerah terhadap kritik. Hal ini berpotensi membatasi demokrasi dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM),” ungkap pernyataan tersebut.
Secara khusus, dukungan moral mengalir deras bagi para pejuang di berbagai sektor—mulai dari petani, buruh, hingga nelayan—yang kerap menghadapi intimidasi di lapangan. Nama-nama seperti Andrie Yunus dari Kontras turut disebut sebagai simbol konsistensi dalam memperjuangkan hak mereka yang dihilangkan, dimarjinalkan, dan dianiaya.
Pesan ini diakhiri dengan seruan tegas kepada seluruh elemen prodemokrasi untuk tetap setia pada perjuangan nurani melawan segala bentuk kesewenang-wenangan, penindasan, dan penghisapan terhadap rakyat.
“Tetap bersikap dan bertindak merdeka!” menjadi penutup kuat bagi mereka yang masih konsisten memperjuangkan hak-hak asasi manusia.










