Ciputat,gitamedia.com – Menjelang dua tahun masa kepemimpinan Bupati Mandailing Natal (Madina) Saipullah Nasution bersama Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution yang akan genap pada Maret 2027, gelombang evaluasi mulai berdatangan dari kaum muda.
Sejumlah mahasiswa asal Madina yang merantau ke ibu kota berkumpul untuk menyuarakan rapor pembangunan kampung halaman mereka dalam aksi Mimbar Bebas di Pelataran FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Aksi bertema “Menjelang Dua Tahun Kepemimpinan Pemerintah di Wilayah Sumatera Utara” ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Mandailing Natal (HM Madina) Jakarta.
Tidak sendiri, mereka bergerak bersama aliansi mahasiswa lain seperti Komunitas Mahasiswa Sumatera Utara (KMSU) Jakarta, HIMA Palas, dan HIMLAB Raya Jakarta.
Suasana mimbar bebas sempat larut dalam keharuan saat Melati Media Syaputri Syukri maju membacakan puisi emosional berjudul “Mandailing, di Bawah Matahari yang Sama”.
Bait-bait puisi tersebut menyentil keras realita kerusakan alam, ancaman keselamatan warga, ketimpangan sekolah di pelosok, hingga masalah klasik: jalanan yang rusak dan berlumpur.

Soroti Masalah Tambang Ilegal (PETI)
Ketua Umum HM Madina Jakarta, Rabiatul Adawiyah, menegaskan bahwa masyarakat Madina hari ini tidak butuh sekadar janji manis di atas kertas, melainkan aksi nyata.
Salah satu yang paling disorot adalah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merusak ekosistem sungai.
Pemkab Madina sebenarnya bukan tanpa tindakan. Catatan redaksi menunjukkan pada April 2025 lalu, Pemkab telah menyurati 12 camat untuk menghentikan PETI, disusul pembentukan Satgas PETI pada Juni 2026.
Bahkan pada September 2026, Satgas telah menyita 3 mesin dompeng di DAS Batang Gadis Kotanopan.
Namun bagi mahasiswa, operasi ini harus konsisten dan menyentuh akar masalah ekonomi, mengingat Bupati Saipullah pernah menyebut ada 10 ribu warga yang menggantungkan perutnya di sana.

Apresiasi Kenaikan IPM dan Penurunan Kemiskinan
Meski melayangkan kritik tajam, mahasiswa tetap objektif mengapresiasi capaian positif Pemkab Madina.
Berdasarkan data Berita Resmi Statistik BPS Madina, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 sukses melonjak ke angka 74,26 (naik 0,82 poin dari tahun sebelumnya).
Selain itu, angka kemiskinan per Maret 2025 berhasil ditekan menjadi 7,91 persen, turun dari angka 8,69 persen pada 2024. Ini artinya, ada sekitar 3.400 warga Madina yang berhasil mentas dari garis kemiskinan.
Namun, Rabiatul mengingatkan agar angka-angka indah dari BPS ini tidak membuat pemerintah cepat berpuas diri.
“Jangan sampai masyarakat terus menanggung dampak dari persoalan yang tidak kunjung diselesaikan. Kami ingin pemerintah hadir melalui kebijakan dan tindakan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Rabiatul menutup orasinya. (red)













