Wakil Ketua II DPRD Kota Serang dari Fraksi Partai Demokrat, Muhammad Farhan Azis, menegaskan bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana generasi muda diberdayakan sejak hari ini. Menurutnya, tanpa regenerasi kepemimpinan, demokrasi Indonesia akan kehilangan estafet kepemimpinan di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Farhan saat menjadi pembicara dalam Indonesia Youth Democracy Forum (IYDF) 2026 yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Auditorium Prof. Dr. Hasjim Djalal, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu (22/7).
Forum bertema “Next-Generation Civic Leadership and Democratic Resilience” itu dibuka oleh Pendiri FPCI, Dr. Dino Patti Djalal, serta Direktur KAS Indonesia, Jan Senkyr. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan pemimpin muda, akademisi, dan aktivis dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam paparannya, Farhan menilai tantangan demokrasi saat ini tidak hanya terletak pada aspek kelembagaan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang akan mengisinya di masa depan.
“Kalau kita tidak menyiapkan anak muda sekarang, maka 10–15 tahun ke depan kita akan kekurangan pemimpin yang paham nilai-nilai demokrasi,” ujarnya.
Farhan juga mengkritisi pola pendidikan politik yang masih bersifat formalitas. Menurutnya, generasi muda membutuhkan pendidikan politik yang lebih praktis, seperti pelatihan menyusun kebijakan, memahami proses penganggaran, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan gagasan.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan Pemilu Muda Project BMP, sebuah program komunitas yang berfokus pada pendidikan politik praktis dan akan dikembangkan hingga ke tingkat daerah.
“Kita ingin anak muda tidak hanya bisa memilih, tetapi juga siap dipilih dan mampu membuat kebijakan,” katanya.
Selain itu, Farhan menyoroti maraknya disinformasi di ruang digital. Ia mendorong pemerintah dan media memperkuat proses verifikasi informasi tanpa mengurangi kebebasan berekspresi.
“Demokrasi membutuhkan ruang kritik. Namun, kritik harus berbasis fakta, bukan fitnah,” tegasnya.
Farhan juga mengajak partai politik memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam proses politik.
“Lihat negara-negara maju, anak muda sudah menjadi anggota parlemen di usia 25 tahun. Indonesia harus berani melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Di akhir forum, Farhan berharap IYDF mampu melahirkan lebih banyak pemimpin muda yang tidak hanya memahami demokrasi secara teori, tetapi juga berani mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Demokrasi yang kuat lahir dari warga negara yang kuat. Dan warga negara yang kuat dimulai dari anak muda yang kita bekali hari ini,” pungkasnya. (red)











