BANTEN, gitamedia.com – Puluhan Kader Posyandu Kecamatan Walantaka ikuti sosialisasi Peningkatan Intervensi Pelayanan Gizi Spesifik dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten bekerjasama dengan Dinkes Kota Serang di aula rapat kantor Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Rabu, 16 Juli 2025.
Terlihat sejak pukul 08:00 Wib, meja layanan periksa kesehatan gratis tampak ramai oleh masyarakat yang ingin memeriksa kondisi kesehatannnya. Adapun layanan pemeriksaan Kesehatan diselengarakan dilokasi tersebut antaralain, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, konsultasi medis, serta pemeriksaan kesehatan dasar lainnya.
Usai menjalani pemeriksaan Kesehatan gratis, peserta kegiatan langsung memasuki aula rapat kecamatan Walantaka untuk mengikuti gelar sosialisasi yang diselenggarakan di di aula rapat kantor Kecamatan Walantaka.
Membuka sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, menjelaskan bahwa sesuai Intruksi Presiden ada 20 (dua puluh) indikator untuk menurunkan stunting, 9 diantaranya menjadi kewajiban Dinas Kesehatan sementara 11 (sebelas) indikator kewenangannya ada pada lintas sektor.
Kesembilan Intervensi Gizi Spesifik tersebut, yakni: (1). Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, (2) Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil, (3) Inisiasi Menyusu Dini (IMD), (4) Pemberian ASI eksklusif, (5) Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, (6) Imunisasi lengkap, (7) Pemantauan pertumbuhan anak, (8) Suplementasi Vitamin A dan Zinc, (9) Pengobatan infeksi pada anak.
“Berbicara stunting tidak hanya diakibatkan kurang makan, penyakit, pola asuh, pendidikan pengasuh atau faktor genetik. Berbicara stunting banyak ada banyak indikator lainnya,” ungkap Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS.
“Kami (dinkes-red) berupaya agar 9 intervensi dapat di jalankan dengan baik, yakni dengan gencar mensosialisasi tentang pentingnya pemberian Asi Eklusif hingga kesehatan remaja putri yang juga berkaitan dengan stunting,” ujarnya.

Melaui Sosialisasi Peningkatan Intervensi Pelayanan Gizi Spesifik ini, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS juga menekankan pentingnya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran Masyarakat, terutama kelompok sasaran seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita juga remaja putri.
“Sebagai contoh, bagaimana mengintervensi agar Masyarakat memahami tentang ASI eksklusif, yaitu adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, selama enam bulan pertama dan bahwa ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang optimal,” paparnya.
Selain itu, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS mengharapkan kepada kader posyandu untuk memberi perhatian khusus terhadap remaja putri melaui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia.
“Remaja putri membutuhkan zat besi lebih banyak dibandingkan usia lainnya, terutama saat mengalami menstruasi. Anemia pada remaja putri dapat berdampak pada kehamilan dan persalinan, serta meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan stunting,” paparnya. (ADV)











