JAKARTA,gitamedia.com — Indonesia menghadapi paradoks ekonomi serius pada usia kemerdekaan yang ke-81. Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen, realitas di lapangan justru diwarnai gelombang PHK dan tingginya persaingan kerja.
Fenomena ini memicu kritik tajam dalam Kursus Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (IWAK) Seri #3 yang digelar daring, Jumat (14/8/2026). Agenda strategis ini diinisiasi oleh Genmuda ISRI, organisasi wadah pemikir muda progresif yang berkomitmen mengawal kedaulatan bangsa dan memperjuangkan ekonomi berbasis kerakyatan. Kegiatan ini turut dikawal langsung oleh Ketua Umum Diasma Sandi Swandaru, Sekretaris Jenderal Herman Dirgantara, Bendahara Umum Achmad Zamzami, beserta seluruh jajaran pengurus pusat Genmuda ISRI.

Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2026, Hafidz Haernanda, mengungkapkan adanya jurang pemisah yang lebar antara narasi keberhasilan pemerintah dan kecemasan riil generasi muda. Ia membeberkan bahwa mahasiswa telah menggelar demonstrasi pada 27 Juli 2026 dengan membawa narasi ancaman kebangkrutan negara.
Kebijakan peluncuran sejumlah mega proyek seperti MBG, Kopdes, hingga Sekolah Garuda justru ditanggapi dengan sikap pesimis oleh kalangan muda. Forum ini menegaskan bahwa indikator kemajuan bangsa tidak boleh hanya diukur melalui angka Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah didesak untuk mengevaluasi arah dan keberpihakan pembangunan nasional agar mampu menyediakan lapangan kerja formal yang layak.
Kursus IWAK Seri #3 ini berhasil menarik antusiasme ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga praktisi kebijakan publik dari berbagai wilayah di Indonesia. Merespons tingginya urgensi pembahasan kebangsaan ini, DPP Genmuda ISRI mengonfirmasi akan segera menggelar Kursus IWAK Seri #4 dalam waktu dekat. Seri berikutnya direncanakan fokus membedah peta jalan transformasi digital nasional dan kedaulatan siber Indonesia. (sg)











