JAKARTA ,GITAMEDIA.COM– Founder KontraNarasi, Sandri Rumanama, angkat bicara mengenai tren kekerasan terhadap pekerja pers yang kian memprihatinkan di Indonesia.
Dalam keterangannya kepada GitaMedia, Senin (4/5/2026), Sandri menegaskan bahwa rentetan insiden kekerasan tersebut bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan bentuk intimidasi sistematis terhadap profesi jurnalis.
“Kekerasan terhadap pers tak saja berdampak pada individu korban, tetapi juga merusak seluruh ekosistem kerja jurnalistik di Indonesia,” ujar Sandri.
Menurut Sandri, di era keterbukaan informasi saat ini, banyak pihak yang merasa tidak nyaman dengan kekuatan pers dalam mengungkap fakta yang bertentangan dengan pandangan publik.
Bagi pihak-pihak tertentu, pengungkapan kebenaran dianggap sebagai ancaman serius.
Ia menyayangkan minimnya penggunaan hak jawab oleh pihak yang merasa dirugikan.
Alih-alih melakukan klarifikasi melalui jalur yang legal, beberapa pihak justru memilih jalan pintas melalui tindakan teror atau kekerasan fisik.
“Hak jawab sebenarnya sangat terbuka, namun jarang digunakan karena pertimbangan kontraproduktif atau ketakutan akan terungkapnya kecurangan yang lebih besar. Tindakan paling singkat yang mereka ambil sering kali adalah teror atau bahkan menghabisi (korban),” jelasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Sandri mendorong agar Desk Ketenagakerjaan Polri memperluas cakupan perlindungannya hingga menyentuh profesi pekerja jurnalistik guna menjamin keamanan mereka di lapangan.
Sebagai langkah nyata untuk mendiskusikan persoalan ini, KontraNarasi akan menggelar Seminar Nasional sekaligus merayakan Hari Kebebasan Pers pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Jakarta.
Seminar bertajuk “Keterbukaan Pers dalam Perspektif Keamanan dan Kesejahteraan Buruh Tinta” ini akan menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya:
1.Sandri Rumanama (Founder KontraNarasi)
2.Hardly S. Pariela (Dewan Pengawas LPP TVRI)
3.Irjen Pol. Jhonny Edison Isir (Kadiv Humas Polri)
4.Siruaya Utamawan (Tokoh Aktivis Buruh)
Melalui forum ini, KontraNarasi berkomitmen untuk terus bersikap optimis dan informatif dalam mengawal isu-isu pers nasional.
“Pers Merdeka, Buruh Tinta Sejahtera, Bangsa Bermartabat,” tutup Sandri dengan semangat khas KontraNarasi. (system)











