JAKARTA, gitamedia.com – Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) menyoroti fenomena “ideologi mengambang” (floating ideology) yang kini rentan melanda generasi muda. Isu krusial ini menjadi pembahasan utama dalam Kursus Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (IWAK) Seri #4 bertajuk “Mengapa Kita Hidup Perlu Ideologi? Memahami Cara Pandang yang Membentuk Bangsa, Negara, dan Diri Kita” yang digelar secara daring pada Jumat (21/8/2026).

Dalam keterangan resmi Genmuda ISRI yang diterima media, Minggu (23/8/2026), Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Hastangka, S.Fil., M.Phil., yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa ideologi mengambang merupakan kondisi saat seseorang kehilangan pijakan nilai. Akibatnya, mereka menjadi tidak konsisten, mudah berubah arah, dan sekadar mengikuti arus tren yang ada tanpa filter kritis.
Menurut Hastangka, persoalan ini sangat mendesak untuk diintervensi mengingat besarnya populasi pemuda saat ini. Berdasarkan data Ditjen Dukcapil Kemendagri per Juni 2026, jumlah Generasi Z (usia 14–29 tahun) di Indonesia telah mencapai 75.369.876 jiwa, atau setara dengan 25,98% dari total 290,12 juta jiwa penduduk Indonesia.
“Apakah ideologi yang mengambang itu murni kesalahan generasi muda, ataukah cermin dari kegagalan struktur sosial-politik dalam menawarkan narasi yang relevan dan meyakinkan bagi mereka?” ujar Hastangka dalam pemaparannya.
Hastangka membedah ideologi melalui tiga fondasi filsafat, yakni ontologis, aksiologis, dan epistemologis. Ketiganya bekerja bersama dalam membentuk cara pandang individu maupun kolektif. Menurutnya, ideologi tidak hanya berfungsi mempertahankan suatu tatanan, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mempertanyakan ketidakadilan dan menghadapi ketimpangan sosial. Dalam konteks Indonesia, ideologi tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk modernnya.

Ia menegaskan bahwa kuantitas demografi yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan sosial-politik yang positif jika tidak disertai kedalaman berpikir. Generasi muda tidak boleh hanya memiliki akses luas terhadap informasi digital, tetapi harus dibekali nalar kritis, kesadaran nilai, dan tanggung jawab kebangsaan agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi.
Sementara itu, Ketua Umum Genmuda ISRI, Diasma Swandaru, merumuskan bahwa kebutuhan terhadap ideologi tidak hanya berhenti pada persoalan identitas. Ideologi diperlukan sebagai sistem pengetahuan berbasis nilai untuk membantu seseorang memahami realitas, menentukan sikap, mengambil keputusan, dan mengarahkan tindakan sehari-hari di era digital. (sg)











