Jakarta, (gitamedia.com) – Kini kemajuan teknologi berhasil memberikan warna baru dalam kehidupan. Namun yang perlu diperhatikan, ada dua sisi yang kerap terjadi akibat kemajuan teknologi. Hal yang positif dan juga negatif. Berbagai hal positif bisa dirasakan dengan kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi. Namun, sisi negatifnya, kemajuan teknologi dapat menyebabkan kecanduan. Khususnya dalam berbelanja online.
Kecanduan belanja online menyebabkan pengidapnya gemar membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkannya. Seseorang dengan kelainan ini dapat disebabkan karena gangguan kontrol impuls.
Perilaku kompulsif dapat mengacu pada pengulangan yang berkelanjutan dari suatu perilaku tanpa memikirkan konsekuensi yang merugikan. Saat seseorang mengalami kecanduan belanja online atau belanja yang kompulsif, gejala yang timbul dapat berupa tidak adanya kontrol dari diri sendiri saat berbelanja. Dalam jangka panjang, pengidapnya dapat mengalami banyak kesulitan karenanya.
Dikutip dari Very Well Mind, kecanduan belanja online ini dapat disebabkan oleh gangguan kontrol impuls karena pengidapnya merasa dengan belanja dapat melepaskan rasa stres yang dirasakan. Cara ini dapat membuatnya merasa lebih baik dan menghindari perasaan negatif, seperti kecemasan dan depresi. Kecanduan belanja online mirip dengan gangguan candu lainnya, seperti binge eating dan juga berjudi.
Kecanduan belanja online juga dapat menimbulkan beberapa gejala yang berhubungan dengan rasa candu. Berikut ini beberapa gejalanya:
1. Pembelian Impulsif
Seseorang yang mengalami gangguan kontrol impuls bisa membuatnya kecanduan untuk sering membeli barang yang dilakukan karena dorongan hati, bukan kebutuhan. Pengidapnya kerap berusaha menyembunyikan kebiasaan buruk tersebut dari orang di sekitarnya. Pengeluaran tanpa memperhitungkan banyak hal membuat barang yang dibeli terus bertumpuk tanpa digunakan.
2. Rasa Bahagia Setelah Belanja
Saat mengalami kecanduan belanja online, orang tersebut dapat merasakan bahagia sesaat setelah belanja. Perasaan gembira tersebut bukan karena sudah memiliki barang tersebut, tetapi dari tindakan saat membelinya. Rasa gembira ini dapat menjadi candu yang parah jika tidak segera mendapatkan penanganan.
3. Belanja untuk Menghilangkan Rasa Emosi
Dilansir dari Psychology Today, seseorang yang mengalami kecanduan belanja online berusaha mengurangi emosi dengan cara membeli barang. Cara ini dipercaya dapat mengisi perasaan kesepian dan kepercayaan diri yang rendah. Suasana hati yang negatif, seperti bertengkar atau frustrasi juga memicu keinginan untuk berbelanja. Perasaan tersebut hanya sementara dan dapat berganti menjadi rasa cemas atau bersalah.











